Suara Muslim

Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa

Berinteraksi Da’awi dengan Masyarakat

leave a comment »

Ketika berinteraksi di tengah masyarakat, janganlah pernah kita menunjukkan sikap yang mentamyiz /membeda-bedakan( diskriminatif ) terhadap ikhwah dan bukan ikhwah atau aktifis dakwah dan bukan aktifis dakwah , misalnya ketika bersalaman dengan sesama kader kita melakukannya dengan hangat bahkan sambil berpelukan, tetapi di tempat dan acara yang sama bersalaman dengan yang belum kader, kita melakukannya dengan biasa saja, bahkan terkesan agak dingin. Apakah cara ini bisa meraih simpati? Mungkin yang terjadi malah sebaliknya. Padahal kita mengetahui dari taujih Nabawi bahwa “Idkhalus surur Shadaqah“ memberikan suatu perlakuan yang mubah tapi menyenangkan orang lain adalah shadaqah.

Di dalam tahun pemenangan (‘Am Intikhabi) ini, tepat jika kita mengaplikasikan “Itsar” dengan cara mendahulukan atau mengutamakan jumhur (masyarakat) daripada ikhwan atau akhwat, misalnya dalam membagi fasilitas yang Allah berikan kepada kita, tidak lagi diputarkan di lingkungan terbatas (baca: ikhwah) tetapi dengan memberikan bagian kita kepada tetangga yang disekitar kita

Ikhwah fillah…

Sudah seharusnya kita memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya karena atas karunia-Nyalah kita menjadi orang-orang yang beriman di jalan-Nya. Allah telah menyelamatkan kita yang nyaris terperosok dan terdampar di jalan menuju neraka, di jurang-jurang bencana yang menganga di berbagai sudut kehidupan. Semangat syukur ini hendaknya mampu menjadikan perasaan kita semakin kuat dalam memiliki dakwah dan jamaah ini. Selain itu kita pun semakin memiliki kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama ikhwan dan anggota masyarakat. Hal itu tak dapat kita pungkiri karena setiap kader dakwah pertama kali lahir secara biologis dan sosiokultural dari rahim masyarakat, dan dilahirkan kembali secara tarbawi dalam rahim dakwah yang mubarakah, Insya Allah.

Kini setelah menjadi kader dakwah, kita adalah pelaku dakwah yang harus menebarkan berbagai kebaikan kepada seluruh manusia sebagai rahmat untuk semesta alam. Dalam konteks ini, kita harus mendahulukan masyarakat yang ada di sekeliling kita, atau yang berada paling dekat dengan kita karena dengan merekalah kita berinteraksi sehari-hari. Seorang kader dakwah itu berasal dari masyarakat, tertempa oleh dakwah dan bermanfaat untuk masyarakatnya.

Ikhwah fillah…

Al-Qur’an tidak pernah menyebutkan ungkapan yang menyiratkan makna bahwa ada jarak antara dai dengan masyarakatnya karena para dai adalah pewaris Nabi saw yang digambarkan dengan ungkapan, “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul (dai) dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan keselamatan bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.“ ( At-Taubah: 128 )

Dari masyarakatlah kita berasal dan untuk mereka pula kita datang sehingga sudah seharusnya kita memiliki ikatan emosional yang dalam terhadap persoalan mereka serta mempunyai keinginan yang kuat untuk memperbaiki dan menyelamatkan mereka dengan bahasa kasih sayang.

Ikhwah fillah…

Renungkanlah, betapa ketinggian akhlaq Rasulullah Muhammad saw dalam berinteraksi dengan masyarakatnya sebagaimana dituturkan oleh istri beliau, Khadijah ra, “ Engkau sungguh gemar bersilaturahim, senang membantu, memuliakan tamu, menyantuni orang yang kekurangan, dan tampil membela siapa saja di dalam kebenaran”.

Hal tersebut di atas menjadikan beliau sebagai sosok yang dipercaya oleh semua orang karena masyarakat merasa dekat dan memperoleh perhatian yang baik dari Rasulullah saw.

Ikhwah fillah…

Ada beberapa kunci yang harus kita perhatikan dalam membangun interaksi di tengah masyarakat. Kunci pertama, hendaknya kita dapat memposisikan setiap orang sesuai dengan kedudukannya dan dengan bahasa yang digunakan oleh mereka, sebagaimana sabda Rasul saw, “Ajaklah manusia dengan bahasa kaumnya dan ajaklah manusia sesuai dengan kemampuan berpikir mereka.”

Kunci kedua, hendaknya kita dapat meyakinkan masyarakat bahwa kita adalah orang yang tak pernah ragu untuk berkorban manakala diperlukan. Berbuatlah, agar masyarakat merasakan bahwa keberadaan kita amat bermanfaat bagi mereka, sebagaimana ungkapan Imam Asy-syahid, “Kegemaran kami adalah bertadhhiyah untuk masyarakat. Dan kita telah ditakdirkan untuk memenuhi kepentingan masyarakat.”

Kunci ketiga, hendaknya kita senantiasa berlapang dada terhadap kejahilan mereka seperti berlapang dadanya orang tua terhadap kesalahan anaknya. Sikap lapang dada ini harus kita tunjukkan dengan cara tidak mempersoalkan hal-hal yang tidak menyenangkan pada diri mereka, mudah memaafkan, serta gemar mendoakan. “Tidakkah engkau ingin Allah mengampuni setiap kesalahanmu”. ( An-Nuur: 22 ).

kunci keempat, hendaknya kita menunjukkan sikap atau perilaku santun dan lembut (“liin”) karena kelembutan dan kehalusan adalah hiasan yang berlaku di manapun dan untuk siapa saja. Rasulullah saw bersabda, “Tidak ada kelembutan pada sesuatu kecuali menjadi penghias, dan tak dicabut dari sesuatu kecuali menjadikannya buruk“.

Keempat kunci interaksi tersebut Insya Allah menjadi “mafaatih “ atau kunci-kunci hati karena kita berkomunikasi dan berinteraksi dengan lingkungan melalui pintu hati mereka, sebagaimana dalam kaidah dakwah dinyatakan “Rebutlah hati mereka dahulu sebelum mengharapkan dukungan mereka“.

Ikhwah fillah…

Ketika berinteraksi di tengah masyarakat, janganlah pernah kita menunjukkan sikap yang mentamyiz /membeda-bedakan( diskriminatif ) terhadap ikhwah dan bukan ikhwah atau aktifis dakwah dan bukan aktifis dakwah , misalnya ketika bersalaman dengan sesama kader kita melakukannya dengan hangat bahkan sambil berpelukan, tetapi di tempat dan acara yang sama bersalaman dengan yang belum kader, kita melakukannya dengan biasa saja, bahkan terkesan agak dingin. Apakah cara ini bisa meraih simpati? Mungkin yang terjadi malah sebaliknya. Padahal kita mengetahui dari taujih Nabawi bahwa “Idkhalus surur Shadaqah“ memberikan suatu perlakuan yang mubah tapi menyenangkan orang lain adalah shadaqah.

Di dalam tahun pemenangan (‘Am Intikhabi) ini, tepat jika kita mengaplikasikan “Itsar” dengan cara mendahulukan atau mengutamakan jumhur (masyarakat) daripada ikhwan atau akhwat, misalnya dalam membagi fasilitas yang Allah berikan kepada kita, tidak lagi diputarkan di lingkungan terbatas(baca: ikhwah) tetapi dengan memberikan bagian kita kepada tetangga yang sedang kita bina.

Mereka sebenarnya mempunyai hak lebih daripada sesama kader dakwah untuk dipedulikan. Untuk mereka, kita harus memberikan hak ukhuwah dan hak dakwah, sedang untuk kader, cukuplah hak ukhuwah karena mereka sudah berada di dalam barisan dakwah dan menjadi pewaris Rasulullah Saw sebagai dai. Hal ini mengingatkan kita kepada para sahabat Anshar yang mulanya kurang puas dengan porsi ghanimah yang mereka terima karena mereka tahu orang-orang yang masih baru bergabung dengan Islam (baca: yunior) mendapat bagian lebih banyak. Kemudian Rasulullah mengumpulkan mereka dan bersabda, “Apakah kalian tidak puas kita berikan bagian yang cukup banyak itu untuk menta-lif ( menyenangkan ) hati mereka dalam Islam sedangkan kalian telah mendapatkan Rasulullah di tengah-tengah kalian?” Mereka pun lalu menangis sambil mengatakan, “Kami ridha dengan Rasulullah bersama kami.” Dan Rasulullah pun mendoakan, “Ya Allah, rahmatilah kaum Anshar dan anak cucu kaum Anshar.” Doa nabawi ini semakin membuat mereka larut dalam isak tangis keharuan.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd..Oleh DR. Surachman Hidayat

Advertisements

Written by suaramuslim

23/08/2008 at 8:18 pm

Posted in Manhaj Haraki

Tagged with

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: